Kepada R: Ch. 1 Hari Baru

Hari Baru

Debar jantung yang tak dapat kukendalikan pagi ini. Harap serta cemas berkemelut di dalam fikiranku kini. Seakan waktu lami sekali berputar. Aku semakin cemas, menanti giliranku saat pertama kali interview setelah empat tahun aku bergelut dengan buku. Dag, dig, dug, seakan dapat kudengar irama jantungku sendiri.

Giliranku telah tiba, aku masuk ke ruangan HRD. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan kepadaku. Aku menjawab apa adanya. Tanpa melebihkan sesuatu, aku bercerita seperlunya tentang diriku. Beliau tersenyum, entah apa yang di pikirkannya. Katanya, aku harus menunggu panggilan dalam beberapa hari. Kuiyakan saja seraya tersenyum.

Satu, dua, bahkan tiga hari telah berganti. Handphoneku berbunyi. Senang bercampur cemas perasaanku. Asaku berkata bahwa itu adalah telepon dari pihak manajemen kantor yang kulamar.

Masih berharap cemas, kujawab panggilan itu. Suaranya sopan sekali. Aku menjawab dengan tidak kalah sopan. Ketika orang itu berkata , ”Selamat siang, ibu,” aku juga menjawab, “Iya, Pak. Selamat siang.” Orang itu kembali memulai pembicaraannya. “Maaf, dengan siapa saya berbicara?”

“Hafizah,” kusebutkan namaku.

“Selamat untuk ibu Hafizah karena simcard Anda telah memenangkan hadiah 10 juta dari undian yang berlangsung tadi malam,” lanjut penelpon itu. Aku tahu itu adalah salah satu modus penipuan. Kubiarkan ia melanjutkan kebohongannya.

“Begini, Ibu Hafizah. Ibu dapat mengambilnya sekarang di ATM terdekat ibu.”

“Oh, oke.” jawabu singkat sambil mengingat, bahwa temanku, Melinda pernah tertipu oleh modus yang serupa. Aku tahu, modus penipuan yang seperti itu adalah bahwa agar orang digiring ke ATM, kemudian untuk melakukan M-Banking yang dapat dikendalikan oleh nomor telepon si pelaku. No. Aku tidak mau tertipu. Kubiarkan penipu itu melanjutkan permainannya.

“Begini, bu. Apa ibu sudah siap untuk mengambil uangnya di ATM sekarang?” tanyanya kembali.

“Maaf, Pak. Kalau boleh tahu, kapan ya Pak diadakan pengundiannya?” tanyaku iseng.

“Tadi malam, jam 10” jawabnya singkat.

Aku mulai mencecarnya dengan pertanyaan. “Jam berapa Pak? Dan kalau boleh tau disiarkan melalui stasiun TV apa ya, Pak?”

Disebutkannya nama salah satu televisi swasta. Hehehe, Anda salah sasaran Bro, karena aku adalah salah satu penggila drama. Kusebutkan acara yangyang kutonton tadi malam, persis di jam dan stasiun televisi yang ia sebutkan tadi. Teleponnya dipatikan seketika. Aku terbahak di kamar sendirian membayangkan betapa bodohnya penipu itu.

Handphone ku kembali berbunyi. Kulihat dari nomor yang berbeda. Aku masih geli dengan kejadian yang tadi. Kuangkat panggilan itu dengan senyum masih menyeringai di wajahku.

“Selamat siang,” sapaku.

“Selamat siang, apakah betul ini dengan Saudari Hafizah?”

Di benakku sekarang, penipu itu semakin pintar. Hahaha… sudah hapal namaku rupanya. Oke, aku ikut maunya mereka.

“Iya, betul. Kenapa? Apa Anda mau memberi saya kabar gembira?” sidirku dengan ramah.

“Iya, Mbak. Betul sekali. Apakah Mbak ada waktu sekarang?”

Aku mulai tersenyum sinis seraya menjawab, “Ya, saya ada waktu.”

Si penelpon tampaknya senang sekali, dia melanjutkan pertanyaan kepadaku, “Baik Mbak Hafizah, kalau begitu silahkan bersiap untuk interview jam 1 siang”.

Astagfirullah, aku sudah suuzan. Segera kujawab, “Baik, terima kasih”.

Aku menengadah keatas. Kulihat jam di dinding menunjukkan angka 12 pas. Tanpa membuang waktu, aku bergegas mandi, dandan, dan cus, berangkat.

Aku membuka pintu, telah tiba ragaku pada kantor yang kutuju. Kembali kulihat jam dinding, jarum- jarumnya mengarah pada jam 1 kurang 10 menit siang. Kulihat hiruk- pikuk suasana kantor. Sejenak benakku membayangkan betapa sibuknya mereka meskipun jam makan siang belum berakhir. Kutengok kanan- kiri, mereka asyik sibuk sendiri. Tiba-tiba, dari arah samping seorang pria berparas rupawan menyapaku.

“Ada yang bisa saya bantu?”

“Iya, Mas. Saya mau interview yang kedua.”

“O, Mbk Hafizah, ya?”

“Iya, benar. Maaf, kok bisa tahu, ya Mas nya?”

“Saya Ridwan, Mbak. Saya yang menelpon Mbak Hafizah tadi siang. Di sini masih sibuk, mari Mbak saya antarkan langsung ke bagian HRD.”

Aku membalasnya dengan senyuman. Kuikuti kemana ia melangkah. Langkahnya menuntunku menuju sebuah tangga, kemudian ia terhenti di sebuah ruangan. Kemudian terhenti.

“Silahkan, Mbak.”

“O, ya. Mas, terima kasih.”

Kuketuk pintu tertutup yang ada di hadapanku. Ketika kudengar kata “masuk” dari seseorang di balik pintu itu, barulah kubuka pintu itu secara perlahan- lahan.

Seorang ibu dengan usia 30- an tersenyum menyapaku sambil duduk di kursinya. Beliau mempersilahkan ku masuk, mempersilahkan ku duduk du hadapannya.

Pertanyaan demi pertanyaan beliau lontarkan. Seperti pada interviev sebelumnya. Beliau tersenyum. Di akhir pertanyaan, beliau menanyakan kapan aku bisa mulai bekerja. Tanpa berpikir panjang, aku menjawab “besok”.

“Baik, besok kamu mulai bekerja,”

Aku tersenyum, kali ini benar- benar dari hati. Senyum sumringah masih terpancar hingga aku keluar dari ruangan itu, dan menuruni tangga.

Di ujung bawah tangga ku lihat Ridwan, masih berdiri. Dia tersenyum, menanyakan bagaimana. Tentu saja kujawab bahwa besok aku sudah mulai bekerja. Besok, adalah hari baru untukku. Di mana aku bisa bekerja. Saat ini lah, aku merasa aku dibutuhkan. Aku bahagia, setidaknya untuk diriku sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s