Kepada R: Ch. 2 Suasana

Pagi-pagi sekali aku bangun. Seusai sholat subuh aku mandi dan mulai ber-make up. Kupandangi wajahku sendiri di depan cermin, batinku merasa bahwa aku sebenarnya cantik juga. Sayang, tidak ada pria yang menyadarinya, karena hingga umurku yang sekarang 24 tahun, menginjak 25 tepatnya, aku masih menjadi seorang jomblo. Hohoho…

Keluar dari kamar, si emak menatapku dengan wajah heran.

“Tumben dandan?”

“Iya lah Mak, kan Fiza mau kerja”

“Nah, gitu dong. Keluar rumah itu yang rapi. Jangan cuek- cuek amat jadi cewek. Gimana orang mau deketin, ngeliat lo kusut gituh, ya orang laki males lah deketinnya. Dikiranya lo udah punya suami,” khotbah emak di pagi hari.

“Iya Mak” jawabku.

Kuambil tas. Dompet, peralatan make up, dan segala keperluan dasar wanita segera kujejalkan dalam tas mungilku. Aku berjalan, mengarah ke sebuah rak, ku ambil sepatu dan kupakai. Aku kembali lagi ke kamar, kembali bercermin. Berpamitan dengan orang tuaku, kemudian keluar rumah menuju angkutan kota, menuju kantor baruku.

Aku tiba di sana, kantor masih tutup. Kulihat jam, masih memperlihatkan angka 7. Hem… oke, aku memang harus menunggu. Karena baru kuingat bahwa jam kerja dimulai dari jam 8 pagi. Hehehe… sepertinya aku kerajinan.

Setengah jam berlalu. Sesosok pria menghampiriku. Ridwan?

“Pagi amat, Mbak datengnya.”

“Maklum Mas, hari pertama, saya takut telat. Nah, Mas Ridwan udah di dalem. Lebih pagi lagi, ya Mas datengnya?”

Dia menanggapainya dengan tertawa.

“Orang yang aneh,” batinku.

“Yaudah, ,Mbak duduk dulu aja,” katanya kemudian menuju ke dalam.

Tawanya belum menjawab pertanyaanku, ia telah hilang dari pandangan. Huft, entahlah. Entah mengapa aku masih heran dengan orang itu.

Aku duduk, memperhatikan jarum jam yang terus bergerak. Satu persatu orang mulai datang ke kantor itu. Satu persatu pula mereka kusambut dengan senyuman. Ada yang membalas, ada yang tidak, tapi itu bukan masalah untukku.

Seorang wanita datang menghapiriku, nyapaku, dan semakin mendekatiku. Ia cantik, menurutku. Wajahnya putih bersih dan berhijab. Ia memperkenalkan dirinya. Katanya, namanya Rima, dan minta dipanggil Teh Rima. Ia berkata, bahwa ia yang akan mengajariku di hari- hari pertamaku.

Aku bukan termasuk orang yang pintar, tapi Teh Rima dengan sabar tetap mengajariku. Thank you Teh.

Satu, dua, tiga hari telah berlalu. Satu, dua, tiga minggu pun telah berlalu. Aku masih tetap di kantor itu.

Aku mulai merasa nyaman berada disana. Mereka ramah dan baik kepadaku. Satu-persatu aku mulai ingat nama mereka, wajah mereka, bahkan di cabang mana mereka ditempatkan.

Setiap pagi aku melihat mereka mengisi absen, kemudian pergi meninggalkan kantor. Di sore hari mereka kembali, wajah lelah mereka tersirat, senyum.

Terkadang pandanganku terpaku pada Ridwan, di pagi hari, terkadang kulihat, ia melantunkan ayat suci Al-Quran. Begitupun di sore hari.

Mungkin hanya ada satu berbanding seratus pemuda seperti Ridwan di dunia. Aku mulai sedikit kagum padanya. Namun setiap doa senyumnya menyiratkan tanda tanya. Jawaban yang takkan dimengerti dengan isyarat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s