Kepada R: Ch. 3 Undangan

Aku mulai merasa bosan serta jenuh atas rutinitas yang monoton. Kepalaku menengadah ke atas, kulihat sudah menunjukan angka tujuh. Mataku sama sekali tidak menunjukan rasa kantuknya. Terlintas di pikiranku bahwa aku adalah manusia nokturnal. Untuk mengusir rasa jenuhku, kuperiksa kembali rak buku, mungkin saja ada komik yang belum terbaca, atau ingin kubaca lagi.

Ada, aku menemukan sebuah komik favoritku, judulnya “Heaven Will” karya Takamiya Satoru. Aku membacanya lagim hingga jarum jam bergeser ke angka delapan. Terdengar suara berisik dari arah luar rumah. Jujur, aku tidak peduli mereka sedang apa. Yang aku pedulikan adalah mereka mengganggu kesenanganku yang sedang membaca.

Tap, tap, tap, kudengar langkah kaki seperti berlari ke arahku.

“Mbak Fiza..”, teriak adiku memanggil namaku.

“Iya, Fah, kenapa?” tanyaku kembali.

“Nih, lo dapet undangan!”, katanya seraya menyororkan selembar undangan kepadaku.

“Makasih”, jawabku singkat.

Ku lihat undangan yang ada di tanganku, bentuknya unik, seperti hati. Warnanya merah maroon yang dihiasi sedikit warna emas.

Aku tersenyum melihat undangan itu, dalam hati mempunyai harap untuk menemukan cinta sejatiku, menikah dan memiliki keluarga yang bahagia.

Kulihat nama calon mempelai di undangan indah itu. Aku terkejut ketika kubaca tulisan “Ryo dan Kania”.

Bukan apa-apa, sungguh aku hanya terkejut ketika mengetahui mantanku, sekaligus cinta pertamaku akan segera melangsungkan pernikahan.

Berat hatiku untuk datang ke sana, bukan karena aku masih mencintainya, atau memendam rasa kepadanya, tapi karena aku takut, ya aku taku ditertawakan oleh mereka. Takut untuk dikira belum move-onm aku hanya punya satu mulut. Entah mereka percaya atau tidak, bahwa aku bahagia untuk mereka. Senyum kecilku mengembang.

Kuambil hape, ku telepon Jhia, sahabatku. Dia adalah sahabatku sejak SMP. Aku sangat menyayanginya. Jhia jugalah yang menjadi ‘mak comblang’ aku dan Ryo dulu.

“Halo Jhi, apa kabar lo?”

“Fiza, bumben lo nelpon gua, kenapa?”

“Lu udah dapet undangan belom?”

“Undangan apa?”, tanyanya heran.

“Ryo sama Kania”, jawabku.

“Nikah dia orang? kapan?”, tanyanya kembali seakan begitu penasaran atas informasi yang baru kusamaikan.

“Iya, Jhia sayang gua, cinta gua, muach muach…” jawabku lagi.

“Trus, lo frustasi?”

Pertanyaanya mulai ketus. Akupun mulai menanggapinya.

“Ya kali gua frustasi. Mereka pacaran di rumah gua aja gua biasa aja. Lo tau gua kan Jhi?”.

“Nah, lo kapan nikah?”.

Pertanyaanya mulai terasa mak-jleb. Aku terkadang iri dengan mereka, teman-temanku. Jhia yang sudah menikah walau di usia relatif muda, punya anak perempuan yang cantik dan pintar. Aku juga iri dengan Ryo yang sudah menemukan cinta sejatinya. Terus, aku kapan gilirannya?.

Lelaki idamanku tidak muluk-muluk. Tidak perlu kaya, tidak perlu rupawan, tidak pula seorang yang jenius. Cukuplah dia seperti Ayasaki Hayate. Seorang yang baik hati dan tulus. Tapi, kenapa aku belum bisa menemukannya ya?.

Back to topic. Aku sudah merasa kesal dengan pertanyaan yang Jhia terus tujukan kepadaku. Kututup teleponnya, kemudian kukirimkan pesan singkat kepadanya.

————————————————
To: Jhia
Pesan: Jhi, gw pergi bareng lo ya? Tolong ini mah. Klo lo bareng laki lo, masak gua bareng tukang ojek. Kalo lo nggak mau nebengin gw, gw ga pergi.
————————————————

Tak lama kemudian terdengar nada dering di hape-ku, tanda ada pesan masuk.

————————————————
From: Jhia
Pesan: Iya bawel, makanya cari cwo lagi.
————————————————

Ku abaikan balasan Jhia yang terakhir. Aku tersenyum lucu akan polah sahabatku.
Hari pun berganti, malam ini aku akan berangkat ke pesta pernikahan seorang sahabat sekaligus mantan pacarku. Aku berdandan secantik mungkin. Mulai dari memakai fondation, bedak, hingga mascara. Belum selesai aku menggambari wajahku, Jhia datang menghampirriku.

” Fiza…”, teriaknya dari arah luar rumah.

“Masuk aja Jhi, lo nggak lagi mauu nagih utang kan, sampe berdiri kayak patung gitu?”

“Hehehe…”, Jhia tertawa absurd. Jhia sudah tampil cantik. Rambutnya panjang sebahu, lipstiknya pink berkilau selaras dengan warna kebaya dan sepatu yang sama. Sahabatku memang pandai mengurus tubuh indahnya. Tak ada yang menyangka bahwa Jhia sudah mempunyai buntut sekarang.

“Tumben lo dandan?, cantik juga lo Fi kalo dandan”, sindirnya ketus

“Semenjak gua kerja, gua diwajibin buat dandan tau. Please, nggak usah ketawa!”, protesku.
Jhia tetap menertawaiku sambil bersenda gurau, tak terasa seluruh wajah telah kupoles cantik, batinku.

Kuambil high heels di rak sepatu. Kuambil tas tangan di atas kasur tempat tidudrku. Kujahili Jhia sedikit, kami tertawa kembai. Sekali lagi kutatap cermin, aku percaya diri melangkah keluar seraya menarik tangan Jhia yang masih duduk di tempat tidurku.
Kami berjalan ke arah luar, dua orang wanita cantik siap menuju ke pesta. Jhia yang mengendarai motor. Beberapa saat kemudian kami tiba di tempat tujuan.

Suasana pesta tampak meriah. Para tamu undangan tampak cantik, apalagi sepasang mempelai yang duduk di pelaminan.

Seorang anak perempuan mendekatiku. Anak itu berusia 10 tahun dengan rambut hitam panjang tergerai berjalan menghampiriku. Aku tersenyum kepadanya. Ya, aku mengenalinya, dia adalah adik bungsu Ryo, namanya Siska.

“Mbak Fiza, lama nggak ngelihat”, sapanya.

“Maaf, mbak sibuk”, jawabku.

Dia kembali tersenyum, seorang anak lagi datang kepadaku, kakaknya Siska. Tingginya lebih dari aku, Remaja lelaki itu tersenyum kepadaku, berjalan mendekatiku.

“Halo mbak Fiza”, kataku.

“Halo Pras! udah gede ya”, kataku.

“Mbak Fiza kok nggak gede-gede”, candanya.

“Udah mentok Pras, nggak bisa tinggi lagi, kecuali ada keajaiban”, candaku.
Kami tertawa bersama, tiba-tiba Pras menyeletuk pembicaraan.

“Gimana mbak rasanya ditinggal nikah sama mantan?”.

Oh, tidak, pertanyaan anak kemarin sore itu sungguh mak-jleb di hatiku. Bukan karena aku cemburu, tetapi karena hingga hari ini aku masih menjadi seorang jomblo.

“Biasa aja, jawabku singkat walau sesungguhnya terasa sesak.

Di tengah pembicaraan, aku melihat seorang pria mengenakan atasan batik, berjalan sendirian. Wajahnya tak asing bagiku. Ridwan. Dia berjalan seraya menenteng sebuah kado kecil.

Ridwan tampak begitu gagah tinggi badannya sekitar 170cm, berhidung mancung berkulit sawo matang. Rambutnya yang cepak seakan sangat serasi dengan batik berwarna coklat muda yang ia kenakan.

Kutegur ia, seakan tidak mendengarkanku, kutegur lagi, kusebut namanya, ia mencari si pemanggil.

Kulambaikan tanganku ke arahnya, aku tersenyum, dia heran, tersirat dari senyum yang mengerutkan dahi.

Dia mendekatiku, selang beberapa detik memanggil namaku.

“Mbak Fiza”, sapanya.

“Iya, mas Ridwan, apa kabar?” balas sapaku

“Mbak Fiza jilbabnya mana?, masak pake jilbab cuma pas kerja doank”, tanyanya yang bermaksud menyindirku.

Aku terdiam, ingin kutupi seluruh wajahku dengan rambut panjangku seperti ‘sadako’. Ridwan tersenyum, dan mengisyaratkan untuk duluan. Aku tertunduk malu.

Dalam hati, andaikan malam ini aku dapat pergi dengan seorang pujaan hati yang baik hati, mungkin ia akan membelaku, membela kesalahanku.

Diantar oleh Pras dan Siska, aku dan Jhia menuju ke arah mempelai bersanding. Ketika kami hendak pulang, mereka menahan kami untuk sejanak sepasang pengantin yang meminta tamu undangan untuk berfoto bersama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s